![]() |
| Ilustrasi 1 |
![]() |
| ilustrasi 2 |
Akhir-akhir ini semakin lama jogja semakin lama semakin macet yah. Banyak
sekali warga pribumi yang mengatakan hal demikian. Bahkan para pendatang pun yang
telah lama menetap pun juga mengatakan hal yang sama. Hmm, benar juga, ternyata
sekarang jogja semakin macet karena semakin banyaknya kendaraan bermotor yang
memadati jalanan di jogja (maksudnya tuh DIY). Terutama di daerah sleman bagian
selatan yang berbatasan dengan kota Yogyakarta. Akan tetapi di belahan jogja
yang lain seperti sleman utara, bantul, kulonprogo, gunungkidul (untuk dua nama
terakhir sudah mulai rame yah).
Jalanan semakin lama semakin sempit. Padahal jalannya pada dasarnya
memang udah sempit karena udah mentok segitu nggak bisa di perluas lagi. Yang
bikin parah lagi semakin tambah panasnya suasana, mungkin efek dari polusi
kendaraan bermotor.
Kalau menurut hemat saya (hehe, sok banget dah bahasanya),
sebenarnya yang bikin macet tuh karena iklan dari lambe ke lambe. Para perantau
yang merantau di jogja pas pulang ke kampong halaman cerita deh ama keluarga,
sodara, tetangga, bahwa jogja itu tempat yang menyenangkan dan apalah (hmm makasih
banget yah atas promosinya, kami sebagai warga pribumi merasa senang jika ada
pendatang yang punya kesan baik terhadap tempat kami). Jadinya nggak perlu
repot-repot bikin iklan segala lah seperti yang di iklankan tempat lain example
visit Malaysia, dll. Setelah mereka dikasih tau terus penasaran lah mereka
sehingga memutuskan untuk datang ke jogja. Awalnya cuma mau piknik doank dan
akhirnya ketagihan deh. Besoknya balik maning dengan mengajak orang lain lagi
dan seterusnya. Lalu ada juga yang beneran ketagihan ampe kepengen hidup di
jogja yang terutama untuk mahasiswa baru yang pengen mendapatkan pendidikan
yang berkualitas tapi harga pas. That’s right bro, jogja itu merupakan surganya
bagi para pendatang yang ingin memperbaiki kehidupannya agar bisa lebih baik. Sudah
banyak lho seperti pak Jokowi yang kini jadi orang nomer 1 di negeri ini
awalnya dulu merantau untuk menimba ilmu di kota gudeg ini. Ada lagi nih idolaku
pak Anies Baswedan juga dulunya kuliah di jogja. Dan masih banyak yang lainnya.
Kembali ke topik permasalahan yah gaes. Yang bikin macet kan salah
satunya adalah membludaknya penjualan kendaraan bermotor (this is my theory
loh, sebenarnya banyak factor lain sih). Saat ini kita dengan mudahnya beli
motor, kayak jajan mi ayam aja. Kita dipermudah dengan sistem kredit yang
sangat terjangkau. Tiap orang bisa beli dengan mudahnya dengan persyaratan yang
mudah pula. Bahkan ada juga keluarga yang anggota keluarganya 4 tapi motornya
ada 5, yah masing-masing satu dong. Ditambah lagi yang pendatang itu, juga
punya motor masing-masing. Makin sesak dong broooo. Hal itu diperparah lagi dengan
buruknya fasilitas sarana transportasi di jogja yang tidak bisa meng cover
seluruh kebutuhan masyarakat yang ingin pergi kemana-mana (maklumlah, dananya
mungkin nggak banyak, beda dok ama di Jakarta yang dananya melimpah) Makanya biar
lebih irit yah beli motor, toh sekarang dengan 300rb dah bisa bawa pulang
motor. Bisa ngacir kemana aja deh.
Saran aku sih, mari kita mulai dari diri sendiri dulu. Jangan nunggu
pemerintah yang berbuat. Yang merasa punya dana banyak terutama para pengusaha
coba deh bikin bisnis transportasi yang nyaman buat kita. Dan juga kita sebagai
rakyat jelata mulailah untuk memakai transportasi yang ada kalo transportasi
itu men support kita mau kemana, kalau udah mentok baru lah kita pakai
kendaraan pribadi.


EmoticonEmoticon